Rabu, 16 November 2011

SUTRADARA FILM AYAT-AYAT CINTA TERNYATA TIDAK SHOLAT

Pembuatan film yang dianggap Islami dengan biaya 25 miliar rupiah ternyata menurut sorotan pengamat film, tidak mencerminkan jiwa Islam. Justru hanya sekadar “jualan” cinta menye-menye. Padahal penulis novel aslinya tidak begitu.

Ada film yang dianggap Islami, penulisnya dianggap tahu Islam, tapi oleh pengamatnya dianggap tidak memberi kesan jiwa Islam. Hingga ketika difilmkan, justru ada hal-hal yang memberikan kesan bahwa pacaran itu boleh dalam Islam, lebih-lebih ketika novel itu telah difilmkan. Sedang sutradara film itu ketika membuat film yang dianggap Islami itu dia tidak shalat dan tidak puasa serta tidak berdoa, padahal di bulan Ramadhan. Itu pengakuan sang sutradara film itu sendiri yakni Hanung Bramantyo:

Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya. Jadi saya menisbikan sesuatu yang berada di luar otak. Sementara yang religius itu tidak. Saya tidak percaya itu semua.(nahimunkar.com)

‘Di Bawah Lindungan Kabah’: Sekadar Cinta Menye-menye? Jakarta - Ketika orang membahas film terbaru Hanny Saputra ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ (DBLK), maka pembicaraan pun berfokus pada soal “product placement” yang ngawur. Bagaimana bisa di Padang pada 1920-an sudah ada Gerry Cholocatos, Kacang Garuda, dan Baygon?

Tentu saja pembahasan soal desain produksi ini menarik. Film berlatar sejarah perlu penanganan desain produksi khusus. Jika salah, maka rusaklah konsep sejarahnya. Walau pun, agar adil, kita harus akui bahwa setting 1920-an digarap dengan cukup apik, mulai dari busana, cara surat-menyurat, pernak-pernik seperti jam dan piring, stasiun di masa Belanda, dan khususnya Masjidil Haram era itu.

Wajarlah, bujetnya, menurut pengakuan produsernya, mencapai Rp 25 miliar. Dan dari sinematografi besutan Ipung Rachmat Syaiful, film ini sangat memuaskan dan dapat menghadirkan suasana Sumatera dan Mekkah di era kolonialisme. Sayangnya, ada satu hal fatal lainnya yang merusak konsep “film period”: lagu Opick yang terdengar modern.

Cukup dengan berbagai elemen pendukung. Bagaimana dengan cerita? Apakah ruh HAMKA yang hadir di novelnya masih terjaga di filmnya? Sebelum menjawab, mari kita lihat alur ceritanya. Intinya adalah kasih tak sampai. Hamid (Herjunot Ali) adalah seorang pemuda yang sopan, intelek, dan tampan. Masalahnya, ia dan ibunya (Jenny Rachman) orang miskin dan bekerja pada Haji Jafar (Didi Petet) orang kaya di kampungnya, yang mempunyai putri cantik bernama Zainab (Laudya Cyntia Bella).

Zainab dan Hamid saling mencintai, tapi perbedaan kelas tentu tak bisa mereka lawan. Apalagi Zainab akan dijodohkan dengan anak orang terpandang yang sedang bersekolah di Jawa. Maka inilah pinta Zainab: “Jika mimpimu untuk ke tanah suci tercapai, aku titipkan doaku, agar aku menikah dengan orang yang aku cintai dan pria itu juga mencintaiku”.

Sebuah tragedi muncul. Untuk menolong Zainab yang tenggelam di sungai, Hamid harus berbuat sesuatu yang dipandang tidak senonoh, dan akhirnya diusir dari kampung—hal ini tidak ada di novelnya.

Apa pernyataan HAMKA di novelnya? Pada Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern yang disusun Maman S. Mahayana dinyatakan bahwa Hamka mengkritik adat perkawinan, serta sikap para orangtua yang mengaku Islam tetapi sebenarnya tidak berjiwa Islam. Apakah hal itu tercermin di filmnya?

Sebagian besar film berfokus pada kasih tak sampai, pada kisah cinta-cintaan. Film berdurasi sekitar 2 jam ini seolah hendak menggabungkan antara tema agamis dengan budaya pop, agar bisa merengkuh sebanyak mungkin penonton—dari jamaah majelis taklim, pembaca HAMKA, hingga abege penggemar Junot dan Bella. Akibatnya, film ini beralih menjadi kisah cinta menye-menye yang melodramatis dan bertujuan menguras air mata (yang tak selamanya berhasil). Mirip dengan kompromi Hanung Bramantyo di ‘Ayat-Ayat Cinta’ yang membuat Fahri menjadi tokoh Si Boy dalam ‘Catatan Si Boy’.

Masalahnya, Hamid, seperti juga Fahri, adalah sosok yang tampaknya lemah, bukan sabar yang tegar dan melawan kezaliman. Kita tahu HAMKA adalah tokoh besar Muhammadiyah, yang punya banyak ide-ide pembaharuan. Tapi Hamid, tidak terlihat dakwahnya sebagai pembaharu. Memang, dia diperlihatkan menjadi lulusan terbaik Thawalib, sekolah Islam modernis. Ia pun berfoto dengan para modernis senior, Ahmad Dahlan dan Agus Salim. Tapi, mana sepak terjangnya—kecuali persoalan cinta, mengurus ibunya, dan cita-cita naik haji?

Kita lihat, bagaimana karya-karya Asrul Sani (baik sebagai penulis skenario dan sutradara) menceritakan tentang pembaharu. Di ‘Al-Kautsar’ misalnya ada tokoh Saiful Bahri dari Pesantren Pabelan. Di ‘Para Perintis Kemerdekaan’—yang adalah adaptasi bebas dari novel DBLK dan otobiografi ‘Ayahku’—ada Halimah yang menentang keras hukum adat yang menzalimi hak perempuan. Keduanya menyatakan modernisasi yang bergulat dengan kekolotan tradisionalis, orang luar berdakwah ke sebuah kampung dan mendapat tantangan kaum konservatif. Hal ini tidak terjadi di DBLK.

Apalagi saat Hamid diadili karena perbuatan yang dinilai tak senonoh tadi, sama sekali tidak terlihat pembaruan. Memang ada perdebatan di antara pemangku adat dan ulama soal pro-kontra hal yang dianggap baru ini (hal yang berbeda dengan ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang tidak ada sama sekali pembelaan agamis dari tokoh yang teraniaya). Tapi, Hamid sendiri tidak membela diri apapun atas tindakannya, kecuali berkata, “Apapun keputusannya, saya akan terima”.

Dan, akhirnya, walau tidak dinyatakan bersalah, ia dihukum dengan cara diusir dari kampung. Tapi, tetap, tidak ada pernyataan dari para ulama itu ke masyarakat yang marah,dan akibatnya Hamid pun tetap dianggap salah dan dihina-dina. Dan, belakangan, Hamid merasa telah difitnah. Siapa yang memfitnah? Di film itu, tidak terlihat satu pun yang menghasut, berbeda dengan film ‘Al-Kautsar’ yang konfliknya sangat tajam dan karakter antagonisnya (Harun) terlihat jelas ingin memisahkan Saiful dengan Halimah, menuduh Harun berzina, bahkan madrasah Hamid dirusak massa.

Intinya, cerita direduksi sedemikian rupa, sehingga yang paling menonjol adalah kisah cinta melodrama (yang maunya berfungsi sebagai) penguras air mata, dan akhirnya menutupi nilai-nilai dan pernyataan yang ingin dihantarkan HAMKA sebagai penulis novelnya.

Bagaimana dengan Zainab yang terdidik? Apakah ia melawan? Iya melawan, tapi untuk kepentingan pribadinya, cintanya. Bandingkan dengan ‘Para Perintis Kemerdekaan’ yang diadaptasi dari novel DBLK: tokoh Halimah adalah seorang perempuan yang memberontak terhadap adat istiadat yang membelengu hak wanita atas nama Islam. Halimah tak kuat dizalimi oleh suaminya sendiri, dan gugatan cerainya ditolak oleh majelis tetua ulama, hingga ia melakukan protes yang ekstrem: sekiranya satu-satunya jalan untuk bercerai adalah menjadi murtad, maka ia pun akan murtad secara terbuka dan terang-terangan di masjid!

AAC, DBLK adalah film-film religius yang dipotong-potong untuk tujuan komersil hingga porsinya lebih banyak kepada kisah cinta. Apakah ini karena keduanya diproduksi oleh MD Pictures?

Ekky Imanjaya, redaktur rumahfilm dan pengajar film di Binus International.

Sumber: detikMovie.com

***



Merindukan Islami-nya Film Islam

(Sebuah Catatan Untuk Film Ayat-Ayat Cinta)

Oleh: Efa Fillah *



“Belum baca? Waah…ketinggalan dong,” demikan komentar seorang kawan ketika pertama kali menawarkan novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada saya. Raut mukanya menunjukkan keheranan. Ia seolah tidak menyangka, kalau saya yang punya minat besar di dunia komunikasi dan tulis menulis, ternyata belum membaca novel yang sejak launchingnya hingga saat ini terus menjadi best seller.

Bukannya apa-apa, sejak lama, saya agak muak dengan fiksi-fiksi percintaan gaya Indonesia yang mengumbar nafsu bertabur kata cinta di mana-mana. Namun, seperti pada banyak fiksi islami yang membuka wacana cinta yang berbeda (dalam arti cinta pada Allah), kata “cinta” yang dikolaborasikan dengan kata “ayat” oleh Habiburrahman El Shirazy atau dikenal dengan sebutan Kang Abik, cukup membuat saya tertarik. Maka saya mulai membaca novel dengan sampul depan gambar perempuan bercadar itu.

Itu terjadi kira-kira setahun lalu. Sekarang, novel itu sudah dinikmati penggemarnya dalam bentuk layar lebar. Film AAC, garapan sutradara Hanung Bramantyo yang tayang perdana Februari 2008, membuat semua orang harus antri di mana-mana karena kehabisan tiket.

Ada satu hal yang saya khawatirkan seusai membaca novel AAC. Dan kekhawatiran itu semakin besar saat AAC akan di film-kan. Satu hal mencolok yang saya pikir –juga akan menjadi perhatian dari Kang Abik– sebagai penulis novel AAC. Maklum, dia seharusnya jauh lebih mengerti dari saya yang awam. Sebab, bagaimanapun, dia adalah alumni Al-Azhar. Dalam perspektif Muslimah, novel ini membawa pesan yang tidak mendukung idealisme Muslimah tangguh. Karakter gadis-gadis dalam AAC semakin menguatkan stereotype lemah, khususnya bagi gadis yang jatuh cinta.

Diceritakan bahwa Fachri, aktor utama AAC, setidaknya dicintai oleh empat gadis sekaligus: Maria, Naora, Nurul dan Aisyah. Meskipun tidak salah bagi seorang gadis menyukai seorang pria dan sebaliknya, namun perhatian lebih dari keempat gadis sekaligus menunjukkan betapa cinta pada pria (saja?) telah membuat mereka berkorban luar biasa.

Maria, gadis Kristen koptik yang cerdas memendam rindunya hingga kurus kering; sedang Naora gadis Mesir belia dengan backgroud hidup yang suram berjuang mendapat cinta Fachri dengan cara pengecut, memfitnah Fachri.

Disamping itu, ada Nurul dan Aisyah, keduanya aktivis dakwah dengan karakter Islam yang kuat, dengan tegas menyampaikan cintanya pada Fachri melalui orang lain. Pada perantara tersebut, kedua gadis itu “menawarkan diri” untuk menjadi istri Fachri. Sebuah perbuatan –yang sekali lagi, memang tidak salah– namun sangat naif ditemukan pada aktivis Muslimah saat ini.

Dalam Islam, rasa cinta terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang wajar. Karenanya, pernikahan menjadi satu-satunya cara yang dianjurkan untuk memenuhi fitrah itu. Seorang Muslimah yang merasa siap menikah, dianjurkan berikhtiar dan berdoa sebelum Allah menghendaki ia menyempurnakan diennya. Ikhtiar dan doa itu seharusnya sudah merupakan langkah klimaks perjuangannya memenuhi fitrahnya.

Di sisi lain, ia bisa terus leluasa mengisi hari-harinya dengan ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Bukannya larut memikirkan pria yang ia cintai sehingga mengorbankan fisiknya, perasaannya, waktunya serta kesempatan-kesempatan amal shalih lainnya. Hal inilah mungkin yang lepas dari perhatian Kang Abik yang cenderung melekatkan karakter lemah pada tokoh-tokoh gadis dalam AAC. Inilah yang nampaknya tak dipahami (atau memang tak dimengerti?) oleh Kang Abik dan sutradara.

Tentu saja, Kang Abik sangat berhak untuk menentukan seperti apa alur cerita dan karakter tokoh-tokoh yang akan dimainkan dalam novelnya. Seperti dikatakan Ustadz Abu Ridho dalam sambutannya di halaman depan novel AAC, novel ini bukan hanya novel cinta tapi juga membawa pesan budaya, politik, dan tentu saja pesan-pesan Islam yang indah.

Sayangnya, semua pesan itu harus rela tergeser oleh kuatnya pesan cinta horisontal yang ditampilkan lewat penokohan keempat gadis yang berburu cinta Fachri, dengan caranya masing-masing. Hal inilah yang tidak dapat dipungkiri, menjadi pesan utama yang terekam dalam memori para perempuan dan remaja putri sebagai mayoritas penggemar novel AAC.

Hal ini pula agaknya yang membuat sutradara muda yang sedang naik daun seperti Hanung, tanpa berpikir panjang bertekad menampilkan “dahsyatnya” fenomena cinta novel laris ini dalam layar lebar. Fenomena inilah yang begitu kuat ditonjolkan dalam film Hanung yang juga menyutradarai Get Married. Kenyataannya, di Indonesia, film bergenre drama romantis selalu diserbu penonton.

Sementara Fachri yang dalam novel digambarkan sebagai mahasiswa Islam miskin yang militan dan haus ilmu, yang hari-harinya dipenuhi dengan perjuangan mencari ilmu, menyambung hidup dengan bekerja sebagai penerjemah dan aktivitas dakwah lainnya, justru nyaris tidak tampak dalam film AAC. Yang nampak adalah gadis-gadis berjilbab “berburu” seorang pemuda bernama Fachri.



Benarkah Islami?



Fenomena pragmatis ini agaknya perlu dicermati dan dijadikan pertimbangan oleh penulis Islam yang karya tulisnya diminati orang untuk di audio visual-kan. Dan bagi kita juga, target konsumennya. Supaya nilai-nilai Islam yang ingin mereka sampaikan tidak memudar dan menjadi ambigu ketika pesan tulisan berpindah menjadi pesan audio visual.

Hanung benar, ketika dalam sebuah tayangan infotaintment mengatakan, “Bagaimapun berbeda karya novel aslinya dengan film AAC”. Meski demikian, Kang Abik dan Hanung, harusnya lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat. Seorang Muslimah sejati, mustahil secara sporadis “berburu” pria yang ia sukai. Sebab itu bukan jiwa seorang Muslimah.

Dan jangan keliru, secara psikologis, bagi sebagaian orang, karya foto dan audio-visual, selain menciptakan efek dramatis, juga melahirkan pencitraan “imagery” bagi orang yang menontonnya. Akan jauh berbeda bagi orang yang membaca novel Herry Potter dengan melihat sendiri film nya.

Begitu juga dengan film AAC ini. Dalam novel, tak pernah diceritakan bagaimana cara pengungkapan rasa cinta secara fisik seorang Muslimah dengan seorang pria. Dengan menunjukkan adegan sentuhan lawan jenis, apalagi sampai terjadi adegan ciuman, langsung menunjukkan itu bukan tipe dan model gadis-gadis Muslim yang sesungguhnya.

Dengan menampilkan adegan –yang katanya islami itu— maka, efek visual film ini akan memberikan citra barunya kepada para penonton remaja bahwa pacaran bagi Muslimah itu boleh. Mau tahu caranya? Lihatlah film AAC.

Tanpa mengurangi rasa kagum saya pada Kang Abik maupun Hanung, saya tetap menyampaikan ucapan selamat atas kesuksesan mencoba menghasilkan karya –yang ia anggap– sebagai islami itu. Tapi maaf, saya tetap merasa agak kecewa. Sebab istilah ‘islami” yang ia maksud tak saya lihat, kecuali hanya ada gadis-gadis Muslim berjilbab. Yang dominan hanya kemesraan dan sensasi melankolis. Lalu, ke mana lagi saya bisa berharap ada film-film lebih islami, yang menceritakan khasanah kekayaan Islam tanpa harus kehilangan rasa kreativitasnya? SUARA HIDAYATULLAH APRIL 2008

*Aktivis FLP Surabaya dan alumnus Fakultas Komunikasi UNITOMO Surabaya



http://majalah.hidayatullah.com/?p=1242



Bagaimana mau ada misi Islamnya

Walaupun film ayat-ayat cinta itu seolah film islami dari segi judulnya, namun sebagaimana sorotan tulisan tersebut terhadap penulis novel maupun sutradaranya yakni Hanung Bramantyo, memang tidak mengarah kepada perbaikan masyarakat agar menjadi Islami. Justru mungkin sebaliknya, seperti mengesankan bahwa pacaran itu dibolehkan dalam Islam.

Bagaimana mau ada misi Islamnya, lha wong Hanung Bramantyo sendiri mengaku kepada media JIL (Jaringan Islam Liberal) ketika dalam proses pembuatan film AAC itu lakon Hanung dia kui sendiri begini:

Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya. Jadi saya menisbikan sesuatu yang berada di luar otak. Sementara yang religius itu tidak. Saya tidak percaya itu semua.

(nahimunkar.com)

tabbloit alfatih on facebook


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar